Pembagian Channel FM
Saluran
FM di tetapkan secara internasional berada pada blok frekuensi VHF yaitu 30-300
MHz. Di Indonesia pembagian channel radio FM berbeda, yaitu setiap channel
memiliki lebar 0, 35MHz sehingga rentang 87, 8-108MHz menjadi 57 channel (57
stasiun jika terpakai semuanya). Beberapa bulan yang lalu pemerintah melalui
Keputusan Direktur Jenderal Postel nomor 15 A tahun 2004 yang merupakan turunan
dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 15 tahun 2003 mengubah lebar kanal
dari 0, 35MHz menjadi 0, 8MHz untuk kota-kota yang belum padat stasiun
radionya, kota yang sudah padat dalam jangka 10 tahun akan diciutkan jumlah
stasiun radionya.
Jumlah
kanal yang disiapkan dalam alokasi frekuensi 87,5 MHz hingga 108 MHz memang
sebanyak 204 kanal. Tapi, tentu saja hal itu tidak menyebabkan 204 stasiun
radio bisa didirikan di kota kita. Sebab jarak antarkanal yang terlalu rapat
akan menyebabkan interferensi antar stasiun radio. Berdasarkan ketentuaan
teknis tersebut ditetapkanlah perencanaan kanal ( channeling plan):
Ø Kanal
1 s/d 201 untuk radio penyiaran public dan radio penyiaraan swasta;
Ø Kanal
202, 203 dan 204 untuk radio penyiaran komunitas.
Karena
itu, aturan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No KM 15 Tahun 2003
mensyaratkan jarak minimal antarkanal dalam satu area pelayanan (yang umumnya
se-Kota atau se-Kabupaten) adalah 800 kHz. Kecuali pada kota besar semacam
Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Medan yang sudah telanjur mempunyai
stasiun cukup banyak. Jarak minimal untuk kota-kota itu adalah 400 kHz.
Jika
jarak antara kanal minimum adalah 800 kHz, Maka jumlah stasiun radioa fm yang
dapat diijinkan berdiri adalah sebanyak 25 stasiun. Jumlah ini diperoleh dengan
mengalikan 204 kanal dengan 100 kHz menghasilkan 20.400 KHz dan kemudian dibagi
dengan 800 KHz sehingga menjadi 25 stasiun. Dengan Formula yang sama, jumlah
stasiun radio FM maskimal untuk wilayah layanan
di kota-kota yaitu: D.K.I, Jakarta ,bogor, bandung, semarang, Surabaya , dan
medan adalah sebanyak 51 stasiun radio FM
Pembagian
channel untuk tiap area layanan tentunya juga disesuaikan dengan faktor-faktor
seperti : kepadatan penduduk, perkembangan kawasan, dan lainnya. Sebab, apalah
gunanya menyediakan banyak kanal jika pendirian stasiun-stasiun baru di suatu
area layanan tidak menjanjikan.
Propagasi
atau arah penyebaraan sinyal FM bersifat langsung (direct) menuju menuju ke
receiver, karena saluran FM tidak mengalami persoaalan dengan sky waves
sebagaimana saluran AM. Transmisi siaran FM memiliki pola cakupan siaran yang
stabil dengan bentuk dan tingakat atau ukuran frekuensi tergantung pada:
1.Daya watt listrik
2.Ketinggian tiang transmisi; dan
3. Bentuk permukaan daratan.
Di
Amerika serikat, kekuatan daya stasiun FM dan ketinggian pemancar di
kelompokkan menjadi tiga kelas yaitu kelas A, B dan C dengan kombinasi daya
watt dan ketinggian pemancar adalah 100.000 watt dan ketinggian menara 2.000
kaki. Di Indonesia kekuatan stasiun radio siaran public dan stasiun radio
siaran swasta juga di klasifikasikkan dalam 4 kelas yaitu:
Ø 1.Kelas
A, diperuntukkan bagi radio siaran di daerah Khusus ibu kota Jakarta dengan ERP
antara 15 kW samapai dengan 63 kW, dengan wilayah layanan maksimum 30 km dari
pusat kota;
Ø 2.Kelas
B, diperuntukkan bagi radio siaran di daerah khusus ibu kota Jakarta / di ibu kota porvinisi, dengan ERP antara 2kW
sampai dengan 15 kW, dengan wilayah layanan maksimum 20 Km dari pusat kota;
3.Kelas
C, diperuntukkan bagi radio siaran di kota lainnya, dengan Erp maksimum 4 kW
dengan wilayah layanan maksimum 12 km dari pusat kota.
Ø 4.Kelas
D, untuk stasiun radio komunitas, dengan ERP maksimum 50 W dengan wilayah
layanan maksimum 2,5 km dari lokasi stasiun pemancar.
Letak
lokasi pemancar dan ERP harus direncanakan sedemikian rupa sehingga akan di
capai kuat medan maksimum sebagaimana yang di persyaratkan, dan tidak
menimbulkkan gangguan interferensi di daerah layanan lain. “Sebagai catatan, layanan penyiaran televisi dengan daya yang tinggi
dapat menyebabkan interferensi yang serius pada layanan komunikasi, meskipun
layanan televise telah memenuhi semua persyaratan teknis seperti: radiasi di
luar band, dan telah dipisahkan dengan baik dari layanan lain’’
Di
antara keuntungan FM adalah bebas dari pengaruh gangguan udara, bandwidth (lebar pita)
yang lebih besar, dan fidelitas yang tinggi. Jika dibandingkan dengan sistem
AM, maka FM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
v Lebih tahan noise
Frekuensi
yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 88 108 MHz, dimana pada
wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari gangguan baik atmosfir maupun
interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak
sejauh, jika dibandingkan pada sistem modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih
panjang. Sehingga noise yang diakibatkan oleh penurunan daya hampir tidak
berpengaruh karena dipancarkan secara LOS (Line Of Sight).
v Bandwith yang Lebih Lebar
Saluran
siar FM standar menduduki lebih dari sepuluh kali lebar bandwidth (lebar pita)
saluran siar AM. Hal ini disebabkan oleh struktur sideband nonlinear yang lebih kompleks dengan
adanya efek-efek (deviasi) sehingga memerlukan bandwidth yang lebih lebar
dibanding distribusi linear yang sederhana dari sideband-sideband dalam sistem
AM. Band siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency) dari spektrum
frekuensi di mana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada gelombang dengan
panjang medium (MW) pada band siar AM.
v Fidelitas Tinggi
Respon
yang seragam terhadap frekuensi audio (paling tidak pada interval 50 Hz sampai
15 KHz), distorsi (harmonik dan intermodulasi) dengan amplitudo sangat rendah,
tingkat noise yang sangat rendah, dan respon transien yang bagus sangat
diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik. Pemakaian saluran FM memberikan respon
yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan hubungan radio dengan noise
rendah. Karakteristik yang lain hanyalah ditentukan oleh masalah rancangan
perangkatnya saja.
v Transmisi Stereo
Alokasi
saluran yang lebar dan kemampuan FM untuk menyatukan dengan harmonis beberapa
saluran audio pada satu gelombang pembawa, memungkinkan pengembangan sistem
penyiaran stereo yang praktis. Ini merupakan sebuah cara bagi industri
penyiaran untuk memberikan kualitas reproduksi sebaik atau bahkan lebih baik
daripada yang tersedia pada rekaman atau pita stereo. Munculnya compact disc dan perangkat
audio digital lainnya akan terus mendorong kalangan industri peralatan dan
teknisi siaran lebih jauh untuk memperbaiki kinerja rantai siaran FM secara
keseluruhan.
v Hak komunikasi Tambahan
Bandwidth
yang lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untuk memuat dua saluran data
atau audio tambahan, sering disebut Subsidiary Communication Authorization
(SCA), bersama dengan transmisi stereo. Saluran SCA menyediakan sumber penerimaan
yang penting bagi kebanyakan stasiun radio dan sekaligus sebagai media
penyediaan jasa digital dan audio yang berguna untuk khalayak.
FM
terdiri atas rangkaian blok subsistem yang memiliki fungsi tersendiri, yaitu:
1.
FM exciter merubah sinyal audio menjadi frekuensi RF yang sudah termodulasi
2.
Intermediate Power Amplifier (IPA) dibutuhkan pada beberapa pemancar untuk
meningkatkan tingkat daya RF agar mampu menghandle final stage
3.
Power Amplifier di tingkat akhir menaikkan power dari sinyal sesuai yang
dibutuhkan oleh sistem antena
4.
Catu daya (power supply) merubah input power dari sumber AC menjadi tegangan
dan arus DC atau AC yang dibutuhkan oleh tiap subsistem
5.
Transmitter Control System memonitor, melindungi dan memberikan perintah bagi tiap
subsistem sehingga mereka dapat bekerja sama dan memberikan hasil yang
diinginkan
6.
RF lowpass filter membatasi frekuensi yang tidak diingikan dari output pemancar
7.
Directional coupler yang mengindikasikan bahwa daya sedang dikirimkan atau
diterima dari sistem antenna
FM Exciter
Jantung
dari pemancar siaran FM terletak pada exciter-nya. Fungsi dari exciter adalah
untuk membangkitkan dan memodulasikan gelombang pembawa dengan satu atau lebih
input (mono, stereo, SCA) sesuai dengan standar FCC. Gelombang pembawa yang
telah dimodulasi kemudian diperkuat oleh wideband amplifier ke level yang
dibutuhkan oleh tingkat berikutnya.
Direct
FM merupakan teknik modulasi dimana frekuensi dari oscilator dapat diubah
sesuai dengan tegangan yang digunakan. Seperti halnya oscilator, disebut
voltage tuned oscilator (VTO) dimungkinkan oleh perkembangan dioda tuning
varaktor yang dapat merubah kapasitansi menurut perubahan tegangan bias reverse
(disebut juga voltage controlled oscillator atau VCO).
Kestabilan
frekuensi dari oscillitor direct FM tidak cukup bagus, untuk itu dibutuhkan
automotic frekuensi control system (AFC) yang menggunakan sebuah kristal
oscillator stabil sebagai frekuensi referensi. Komponen AFC berperan sebagai
pengatur frekuensi yang dibangkitkan oscillator lokal untuk dicatukan ke mixer,
sehingga frekuensi oscillator menjadi stabil.






